Balada Seekor Ikan Kecil

Balada Seekor Ikan Kecil [Sebuah Analogi]

Oleh: Afnan Fuadi

Setahun lalu aku pindah rumah

Rumah yg sekarang memang tidak lebih besar,

Namun lebih sejuk, lebih menenangkan.

Didaerah sekitar rumahku terdapat sebuah Sungai.

Kecil memang, tidak terlalu indah, airnya juga keruh.

Banyak anak-anak didaerah ini sering bermain disana

Ibu bilang “Nak, mainlah ke sungai, biar kamu punya teman di tempat baru ini”.

Akhirnya aku pergi ke sungai, walau tak berniat mencari teman

Kala itu hari sudah sudah sore, sang Fajar terlihat bersiap Istirahat

Aku masih duduk dipinggir sungai, termenung …

Beberapakali kulihat 2, 3 ikan sungai hilir mudik bergantian..

Tak ada yg aneh memang.. Ya, hanya ikan !

Saat hendak pulang, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya seolah muncul dari dasar sungai.

Cahaya itu menyita perhatianku, kudongkakan badan mencari sumbernya

Cahaya itu berputar-putar diatas permukaan sungai, seolah-olah minta diperhatikan

Tak kusangka sumbernya dari seekor ikan. Kecil memang namun indah

Sejenak kutunda niatan untuk pulang, kupandang lamat-lamat ikan kecil itu

Bentuknya kecil, tak lebih besar dari ukuran kotak makan siangku

Namun sisiknya beda dari kebanyakan ikan disungai ini.

Dia menyala-nyala, seolah-olah memantulkan dengan sempurna cahaya sang Rembulan,

Siripnya yang lentik pun semakin menambah kecantikan alaminya

Tak terasa hari sudah malam dan aku harus segera pulang agar tak dimarahi ibu.

Meninggalkan ikan kecil itu sendirian, di sungai keruh pinggiran desa kami.

Esoknya sepulang sekolah aku bergegas pergi ke sungai,

Ibu sempat memarahi karna aku tidak sempat mengganti baju dan makan siang.

Akhirnya kubawa kotak makanan bersamaku ke sungai.

Hari masih siang, matahari masih meninggi. Ikan kecilku belum tampak

1 jam, 2 jam, 3 jam ku menunggu tetap tidak tampak. Aku mulai putus asa.

Makan siangku belum kuhabiskan semua, tapi entahlah perut ini tidak terasa lapar

Aku lebih lapar rasa rindu karna menunggu ikan kecilku.

Hari mulai malam, akupun mulai putus asa. Seharian menunggu tidak ada hasilnya!

Sepertinya ikan kecil tidak ingin menemuiku malam ini.

Aku sudah ingin pulang, tapi berat rasanya untuk melangkah,

Anak-anak desa yg lain sudah mulai pulang, tinggal aku sendiri. Tertunduk lesu…

Tiba-tiba dari atas permukaan sungai muncullah siluet putih, aku belum menyadarinya

Hingga akhirnya sebuah kilatan cahaya meloncat keluar dari dalam sungai.

Aku mulai tersadar… Itu ikan kecilku !!!

Seperti biasa dia menari-nari diatas sungai, sisik-sisiknya memantulkan cahaya rembulan.

Malam itu dia tidak sendiri, ada beberapa ikan juga bersamanya.

Namun diantara ikan-ikan yg lebih besar, dia tetap paling menawan.

Baru kutemui rasanya ikan seperti ini.

Ikan kecil ini memang menyita perhatianku !!!

Aku teringat, tadi sepulang sekolah aku sempat mampir ke toko ikan

Aku rela menghemat jatah uang jajan hari ini untuk membeli pakan ikan

Kutaburkan segenggam pakan ke permukaan sungai.

Aku ingin melihat ikan kecilku menyantapnya dengan senang.

Tapi, kenyataannya tidak seperti itu… Ikan kecilku tidak kebagian makanan

Dia kalah cepat dan tenaga oleh ikan-ikan yang lebih besar.

Kasian ikan kecilku, sepertinya kehidupamu di sungai ini sangatlah berat.

Hari-hari selanjutnya selalu kuhabiskan melakukan hal yang sama

Pulang sekolah, makan, menunggu sore dan pergi ke sungai.

Aku sudah hafal jadwal pertunjukan ikan kecilku ini.

Sampai akhirnya pada hari ke sekian, aku bilang pada Ibu..

“Ibu, bolehkah aku memelihara ikan ?”

Awalnya ibu mulai ragu, dia bilang “Apa kamu yakin bisa mengurusnya?”

Sejenak aku termangu, aku memang tidak tau cara mengurus ikan

Aku bahkan belum pernah punya peliharaan sebelumnya.

“Aku tidak yakin bu, tapi aku tidak tega melihat keadaan ikan itu disungai,

dia selalu tersudutkan oleh ikan-ikan yg lebih besar..”

Ibu bertanya lagi, “Mau kau simpan dimana ikan itu? kita kan tidak punya aqarium?”

Reflek aku menjawab, “Kita bisa pakai tempat kue ibu, itu kan dari kaca,

lagian ibu hanya menggunakannya pas menjelang hari Raya saja kan?”

Ibu terus menyanggah, tapi aku selalu punya alasan untuk menawab.

Hingga akhirnya Ibu pun mulai mengalah, mungkin karna melihat sorot mataku yg bersungguh-sungguh.

Akupun berteriak senang, lalu memeluk ibu erat.

Sejak kecil aku memang jarang meminta hadiah pada Ibu, kalaupun minta mungkin bisa dihitung jari.

Malam ini adalah malam terbaik dalam hidupku, aku senang, aku cinta Ibu.

Aku cinta Ikan Kecilku….

Keesokan paginya ….

Hari ini hari Libur, namun aku bangun lebih pagi dari biasanya. Teringat ikan kecilku,

Habis mandi dan sarpan aku bergegas pergi ke sungai, sambil membawa kaleng kaca milik ibu

Aku tau ini masih pagi, tapi aku sudah tidak sabar! aku ingin segera bertemu ikan kecilku!

Tampaknya hari ini adalah hari keberuntunganku!

Baru saja sampai sungai, aku sudah bertemu dengan ikan kecilku,

Awalya aku mulai ragu, setauku dia hanya muncul saat hari menjelang malam

Tapi tiba-tiba ikan itu menari-nari disungai, namun kali ini dia berhias cahaya sang Fajar

Sudah kuduga, Itu Ikan kecilku !!!

Segera kudongkakan kaleng kaca yg kubawa dari rumah tadi,

Tidak terlalu sulit, ikan kecil itu langsung masuk kedalam kaleng.

Tampaknya dia memang sudah mengerti. Ahh.. senangnyaaa

Kutenteng kaleng kaca ibu menuju rumah.

Anak-anak lain yg sedang bermain disungai mulai memperhatikan

Beberapa dari mereka bahkan sempat merengek menarik baju Ibunya karna iri padaku.

Ibu, hari ini aku senaang sekali..

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat menyenangkan,

Sebelum berangkat sekolah kuberikan beberapa pakan untuk Ikan kecil,

Disekolah aku tidak fokus belajar, selalu teringat ikan kecilku. Aku ingin pulaang!

Suara bel sekolah mulai nyaring berbunyi, aku bergegas pulang ke rumah.

Pertamakalinya dalam hidupku suara bel pulang sekolah terdengar sangaat indah

Bahkan lebih indah dibanding suara gerobak abang penjual eskrim di desa.

Sesampai dirumah aku bergegas pergi ke meja belajar di kamar,

Kutengok ikan kecilku, seperti biasa dia selalu menawan.

Rasa-rasanya untuk saat ini aku tidak membutuhkan teman yg lain.

Aku punya ikan kecilku, itu cukup !!!

3 kali sehari kuberi dia pakan, 3 hari seminggu kuganti air dikalengnya.

Tidak jarang juga kulepaskan dia di bak, menemaniku mandi.

Saat itu aku merasa menjadi anak yg paling bahagia,

Saat itu aku merasa menjadi orang yg paling mengerti kondisi ikan kecil,

Saat itu aku merasa paling tau apa yang dia butuhkan.

Saat itu aku merasa menjadi penolong ikan kecil dari sungai keruh itu.

Saat itu aku merasa, tanpaku pasti ikan kecil akan kesusahan mencari makan.

Hingga akhirnya pada suatu hari sepulang sekolah aku dikejutkan oleh suatu hal,

Hal yg sebelumnya tidak pernah bahkan terbesitpun tidak !

Ikan kecil sedang sakit …

Gerakannya tidak selincah biasanya, satu dua siripnya ada yg berjatuhan

Sisik-sisiknya juga tidak memantulkan cahaya seperti biasanya,

Aku sedih, kuhampiri Ibu. Aku menangis dipelukan ibu.

Aku bingung tak tau harus berbuat apa …

Aku bingung apanya yang salah dengan perawatanku? …

Aku kasian melihat ikan kecil lemah tak berdaya …

Rasa-rasanya hari kemarin semuanya masih berjalan seperti biasa,

Rasa-rasanya hari kemarin gerakannya masih lincah seperti biasa,

Rasa-rasanya hari kemarin sisik nya masih bercahaya seperti biasa.

Ibu, tolong aku… Ikan kecil maafkan aku …

Aku masih menangis tersedu dipangkuan Ibu,

Ibu membelai lembut, sambil mencoba menegerkanku, berkata:

“Sudah nak, semuanya baik-baik saja. Jangan nangis lagi ya. Menangis tidak membunuh masalah..”

Aku tau, kata-kata ibu tidak merubah apapun. Ikan kecil masih tetap sakit

Tapi setidaknya ibu membuatku berhenti menangis, Ibu benar, menangis tidak membunuh masalah.

Aku mulai bertanya pada Ibu, apa yg harus kulakukan ?

Ibu bilang, “Kamu harus kembalikan lagi ikan kecil ke sungai.

Kamu benar, mungkin ikan kecil akan kembali kesulitan mendapat makanan,

mungkin ia kembali akan tersudutkan oleh ikan-ikan yg lebih besar,

tapi nak, disitulah letak perjuangan nya. Ikan kecil tidak bisa terus-terusan hidup didalam kaleng,

dia butuh tempat yg lebih luas, dia butuh cahaya rembulan yg akan mempercantik dirinya.

Ibu yakin, nanti dia akan kembali sembuh dengan sendirinya.”

Nasihat ibu seakan menampar habis pipiku,

ibu benar. Aku terlalu berlebihan pada Ikan kecil.

Aku terlalu sombong, merasa bisa mengurus ikan kecil seorang diri.

Keesokan harinya dengan ditemani ibu aku pergi kesungai

kami juga turut membawa ikan kecil,

sudah kuputuskan, hari ini aku akan kembalikan ikan kecil ke sungai.

Ditepi sungai, mulai kudongkakan kaleng kaca ke bibir permukaan sungai

Perlahan ikan kecil mulai berenang keluar, kembali ke dasar sungai…

Berat memang, tapi mungkin ini yg terbaik, buatku, dan juga ikan kecil.

Selang beberapa detik ikan kecil sudah tak terlihat lagi,

mungkin dia sudah rindu dasar sungai.

Sambil menatap riak-riak air di permukaan sungai, aku bergumam dalam hati,

“Selamat tinggal ikan kecil, kau akan selalu menjadi ikan yg paling istimewa untukku.”

Sambil menatap riak-riak air di permukaan sungai Ibu kembali berkata,

“Nak, terkadang saat mencintai sesuatu kita merasa paling benar

Kita merasa paling mengerti akan kebutuhan yg kita cintai itu.

Tak jarang juga kita bersikap terlalu berlebihan, mengatur semua hal sampai detil terkecil

Tapi anakku sayang, alam semesta ini sudah memiliki penjaganya sendiri.

Setiap hal, sekecil apapun itu sudah diatur dengan skenario terbaik oleh sang Pencipta

Begitu juga dengan ikan kecil,

Anakku sayang, janganlah kau khawatir lagi dengan ikan kecil,

Dia akan baik-baik saja, pasti akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.

Selamat tinggal ikan kecil

aku akan merindukanmu . . .

Advertisements

AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG

ayahku bukan pembohong
 

Paperback        : 304 pages

Published         : April 2011 by Gramedia Pustaka Utama

original title     : Ayahku (Bukan) Pembohong

Author                : Tere Liye

ISBN                     : 139789792269055

Language          : Indonesian

Continue reading