KADERISASI MAHASISWA : URGENSI DAN RELEVANSI

Masa perkuliahan adalah masa yang penuh dinamika, intrik, dan pembelajaran. Label “Maha” yang melengkapi kata “siswa” memang memiliki sejarah panjang dibelakangnya. Bila menengok kebelakang akan dengan mudah kita jumpai serentetan peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan Mahasiswa dan pergolakan Negeri ini. Dinamika kampus memang memilki pesonanya tersendiri, terutama bagi para mahasiswa baru yang bisa dikatakan masih “buta” pada sejarah panjang pergerakan mahasiswa. Oleh karna itu, demi keberlanjutan tongkat estafet pergerakan mahasiswa, diperlukan adanya suatu sistem pengkaderan yang terstruktur dan terintegrasi yang dapat menjaga keberadaan eksistensi mahasiswa di Negeri ini. Karna memang merekalah yang kelak akan menjadi nakhoda yang menghantarkan Negeri ini berlabuh di pulau kejayaan.

Kaderisasi adalah proses yang wajib dilaksanakan oleh setiap organisasi untuk menjaga eksistensinya, tak peduli apapun bentuk organisasi tersebut. Dalam konteks kemahasiswaan yang notabene dilabeli sebagai kaum akademisi, kaderisasi memiliki fungsinya tersendiri. Secara umum kaderisasi mahasiswa merupakan serangkaian proses panjang pembentukan karakter (character building) mahasiswa, agar mereka sadar akan peran dan tanggung jawabnya pada lingkungan sosial.

Kata “kaderisasi” mungkin menjadi sesuatu yang tampak menyeramkan, khususnya bagi para mahasiswa baru. Gambaran mengenai hal-hal berbau perpeloncoan, hukuman fisik, makian, ajang balas dendam senior pada junior setidaknya menjadi first impression bagi beberapa maba. Sesuatu yang menurut saya keliru selama ini. Kaderisasi seharusnya tidak menjadi hal yang ditakuti, melainkan hal yang dibutuhkan. Karna bagaimanapun kaderisasi adalah ujung tombak yang menentukan masa depan suatu organisasi. Hal-hal mengenai gambaran buruk kaderisasi tidak boleh sepenuhnya dilimpahkan pada mahasiswa baru, bisa saja karna memang sistem yang diberlakukan selama ini kurang cocok atau tidak relevan dengan kondisi zaman.

Berangkat dari hal itu penulis berfikir bahwa diperlukan adanya pengkajian ulang mengenai urgensi kaderisasi. Untuk apa kaderisasi itu ada? Bagaimana alur proses seharusnya? dan apakah ia masih relevan dengan tantangan zaman sekarang ?

Pemahaman mengenai kaderisasi dewasa ini seolah-olah terbiaskan, gambaran penyiksaan atau ajang balas dendam seolah menjadi hal yang tidak bisa terpisahkan dalam kegiatannya. Ini juga terjadi di kampus tempat penulis belajar. Sampai akhir-akhir ini turun SK pelarangan kaderisasi dari Direktorat. Entah hal apa yang memicu turunnya keputusan ini, mungkin karna banyak sekali laporan yang datang dari orangtua / wali mahasiswa yang ikut resah bila anaknya mengikuti acara kader. Namun, terlepas dari keresahan pihak direktorat atau orangtua akan acara ini, hal pertama yang harus disepakati adalah tercapainya persamaan visi atau persamaan presepsi dari seluruh elemen mahasiswa terhadap kaderisasi ini. Hal ini sangat penting adanya, karna yang terjadi sekarang ini di pihak mahasiswa pun belum satu suara. Tidak semua elemen mahasiswa setuju bahwa kaderisasi ini memang memberikan manfaat yang besar terhadap pencarian jati diri mahasiswa, namun ada juga beberapa mahasiswa yang masih berfikir bahwa proses kaderisasi tidak ada gunanya, menghabiskan waktu, ajang pembalasan, ajang pendekatan dengan maba atau yang lainnya. Bahkan jumlah mahasiswa yang berfikiran seperti ini semakin lama semakin banyak.

Inilah yang menjadi kelemahan dari pihak mahasiswa. Bagaimana bisa meyakinkan direktorat atau orangtua wali, jika dari kita sendiri (mahasiswa) belum satu suara? Masih sibuk dengan ego kita masing-masing. Padahal jika kita kaji lebih dalam, keberadaaan kaderisasi ini sangat penting adanya bagi kemahasiswaan. Kaderisasi mahasiswa berbeda dengan kaderisasi lain, kaderisasi mahasiswa harusnya memadukan pendekatan AKABRI dan cendikiawan. Konsep dengan disiplin tinggi hingga terbangun keterkaitan emosional serta kesetiakawanan, jiwa espirit de corp atau korsa ditanamkan. Proses brain washing dipadukan dengan ketegasan, management by conflict juga diajarkan, dilengkapi dengan berdiskusi, yang mengajarkan bernegosiasi, seni persuasi untuk meyakinkan orang lain lalu menggeliat dan berkelit saat berdiplomasi. Selain jiwa korsa, dibekali juga bagaimana berfikir kritis, berfikir besar, dan dilatih berbeda pendapat untuk memunculkan rasa toleransi. Selama kaderisasi diisi dengan kegiatan yang mempunyai esensi seperti diatas, dan seluruh elemen mahasiswa yang terlibat juga memiliki presepsi dan tujuan yang sama, maka tidak ada alasan untuk menghentikan kaderisasi. Efeknya, jika kerangka berfikir seperti ini dapat terwujud, maka dapat diambil sebuah simpulan bahwa kaderisasi wajib dilakukan. Tak peduli segenting apapun situasi atau sebesar apapun ancaman yang ada. Itulah urgensi kaderisasi.

Jika kita telah bersepakat mengenai urgensinya, akan timbul pertanyaan lain. Bagaimana dengan relevansinya ? apakah model kegiatan kaderisasi yang diterapkan saat ini sesuai atau relevan dengan zaman ? apakah perlu ada perbaikan atau mungkin perombakan besar-besaran?

Seperti yang kita tahu, perubahan zaman sangat mempengaruhi perubahan sosial. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Begitu juga dengan kaderisasi mahasiswa, akan sangat bertentangan jika kita menerapkan model kegiatan kaderisasi mahasiswa angkaiatan 90-an di masa sekarang. Kenapa? Karna memang situasinya berbeda, kebutuhannya berbeda, tuntutannya juga akan berbeda. Mahasiswa pada saat itu di didik untuk berani, kuat, bahkan siap mati. Karna tantangan zamannya menuntut demikian. Seperti yang kita ketahui bagaimana besarnya perjuangan kakak-kakak pendahulu kita yang rela berpanas-panas turun ke jalan, meninggalkan bangku kuliah, meninggalkan keluarga tersayang untuk membela rakyat. Menyatukan suara dengan ribuan mahasiswa lain seluruh Indonesia untuk menurunkan rezim otoriter yang membuat rakyat menderita dan berkuasa pada saat itu. Sehingga tidak heran jika kaderisasi pada saat itu bisa dibilang keras, sangat keras bahkan. Karna tuntutan output mahasiswa yang dibutuhkan memang demikian. Harus berani melawan pemerintah, berdesakan mendorong aparat keamanan yang berjaga saat mereka melakukan aksi.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah kaderisasi semacam itu masih relevan jika dilakukan pada masa sekarang ini ?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita harus mengkaji bagaimana kondisi zaman sekarang ini. Pada saat ini kondisi perpolitikan di Indonesia memang tidak seekstrim dulu. Semenjak peristiwa 98, jarang sekali ditemukan aksi-aksi besar yang serupa. Namun, mahasiswa tetaplah mahasiswa, tak peduli semodern apapun zamannya, seorang mahasiswa tidak boleh kehilangan idealisme seorang pemuda yang selalu bersemangat dalam menyongsong perubahan.

Masa sekarang adalah masa pasca reformasi. Yang menjadi concern atau fokus zaman ini adalah bagaimana Indonesia mampu memiliki daya saing, tidak tertinggal oleh bangsa lain. Sehingga pemuda-pemuda yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pemuda-pemuda yang memiliki karakter seorang pemimpin, pemuda-pemuda yang memiliki kapasitas untuk memimpin negeri ini menuju kejayaannya. Bagaiman caranya membuat suatu sistem yang nantinya akan menghasilkan kader-kader yang tidak hanya memiliki solidaritas atau jiwa korsa, tapi juga berdayaguna? Bagaimana menciptakan suatu sistem yang akan menghasilkan output kader-kader yang tidak hanya berfikir kritis, tapi juga berfikir besar?. Hal-hal seperti inilah yang dapat menjadi tolak ukur dalam merancang kaderisasi di zaman ini.

Bicara tentang keberdayagunaan, 1400 tahun yang lalu, seorang pria yang menduduki peringkat teratas dalam daftar “100 Most Influence People” karya Michael Heart pernah berkata. Bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan bantuan manusia lain. Salah satu hal yang membedakan satu individu dengan individu lain adalah faktor kebermanfaatannya (pemberdayaan). Itulah kewajiban dalam hubungan antar manusia. Hal ini juga yang harusnya menjadi tujuan setiap organisasi, terutama organisasi kemahasiswaan seperti HIMATEL. Memang kaderisasi adalah mesin utama dari sebuah organisasi, namun jangan lupakan faktor fundamental lain yang menjadi pondasi tujuan untuk apa HIMATEL dibentuk? Yaitu adalah faktor pemberdayaan. Pembinaan kaderisasi dapat diibaratkan membuat sebuah mobil balap F1. Dimulai dari tahap design, perancangan, pembuatan suku cadang, pembuatan body mobil sampai akhirnya menjadi sebuah mobil balap yang utuh dan memiliki spek yang diharapkan, seperti itulah kaderisasi. Namun setelah mobil itu jadi, masalahnya sekarang adalah dimana kita akan menempatkannya? Bagaimana kita menggunakannya? Kita bisa saja mengendarai mobil ini dijalanan biasa atau dijalan desa yang berlubang, toh mobil ini tetap akan melaju. Kita juga bisa mengendarainya di jalan bebas hambatan seperti jalan tol. Tapi dimana sebaiknya kita mengendarain mobil ini? Tentunya mobil balap F1 yang memiliki akselarasi tinggi seperti ini akan lebih maksimal jika kita kendarai di lintasan balap. Performa nya akan lebih terasa ketimbang saat kita mengendarainya dijalanan kota biasa yang penuh dengan rambu-rambu lalu lintas. Inilah Pemberdayaan !

Setelah berhasil menciptakan kader-kader yang memiliki kualitas, hal selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana memberdayakannya? Proses pemberdayaan inilah yang tampak luput dari perhatian. Padahal ini adalah inti dari keberadaan suatu organisasi. Organisasi bukan hanya tempat pembentukan karakter, tapi lebih dari itu, juga menjadi wadah yang dapat menyalurka potensi anggotanya, memberdayakan anggotanya, memberi daya guna bagi lingkungan disekitarnya. Dalam konteks kemahasiswaan, tentunya sebuah organisasi mahasiswa harus dapat memenuhi tuntutan zaman. Jadi, sebenarnya kaderisasi bukan inti dari sebuah organisasi yang bila telah selelsai melaluinya maka berakhirlah kewajiban organisasi tersebut, tapi sebaliknya ia adalah tahap awal yang setelah berhasil melaluinya maka tahap utamanya adalah pemberdayaan. Oleh karna itu, organisasi kemahasiswaan yang dalam konteks ini adalah himpunan mahasiswa diharapkan mampu menjadi jawaban bagi tantangan zaman demi terwujudnya masa depan negeri yang lebih baik.

Advertisements