Frekuensi kami, tapi bukan untuk kami

Siang tadi saya mendapat sebuah notofication dari twitter, awalnya saya kira paling hanya akun BOT yang numpang jualan lagi. Maklum lah, 2 minggu terakhir ini semua mention yg masuk ga jelas semua. Dari yang nawarin jaket, kosmetik, kursus berbagai les, sampai yang paling parah jualan obat penurun berat badan. Aduuh mbak, badan saya udah kecil gini masih ditawarin juga ?  -_-

 

Setelah dilihat, ternyata mention yang masuk berasal dari teman kelas saya di kampus. Kafin nama nya, pemuda asal soreang bertubuh tinggi-kurus ini sudah menjadi salah satu teman dekat saya selama menjalani masa perkuliahan di kampus yang saya lupa nama kampus nya apa. Sepanjang perkenalan dengannya 6 bulan terakhir ini, menurut saya dia adalah seorang pemuda yang langka! bukan karna tubuhnya yang tinggi-kurus itu. Pemikiran dan ide-ide yang keluar dari mulutnya terkadang diluar nalar. Beberapa pekan yang lalu, saat acara menginap di rumah sambil mengerjakan soal perbaikan Matematika Terapan, pernah dia berkata secara tiba-tiba pada saya.

“Nan,  kadang urang mikir bahwa urang teh satu-satunya manusia nu aya di bumi. Sedangkan orang-orang lain teh malaikat, jadi sebenerna urang teh satu-satunya manusia nu keur di uji di Bumi. Nan, maneh malaikat lain ?”

 

Gimana, sarap kan dia? Dan lebih sarap lagi yang ngeladenin obrolan nya. Itu saya! Ha ha

Kembali ke masalah mention, tadi siang Kafin ngeMention saya begini :

Kafin

Dari link yang dia sertakan pada mention tersebut mengarah pada sebuah artikel yang berjudul : Konglomerasi Media dan Informasi yang Keruh .

Setelah saya baca, main case artikel tersebut memang sudah jadi kasus lama. Maklum lah, artikel itu di posting pada 24 Oktober 2014 lalu. Dimana pertempuran politik 4 tahunan sekali itu sudah mencapai puncaknya. Kalau saya tidak salah itu bertepatan dengan pelantikan Presiden baru negeri ini kan. Saya lupa tanggalnya, tapi yang jelas itu bulan Oktober.

 

Intisar dari artikel itu adalah tentang asal muasal segala Informasi yang masuk ke Negeri ini. Dari ratusan media informasi yang terdapat di Indonesia, baik itu koran, majalah, televisi, dll. Ada 3 raksasa besar yang sangat berpengaruh pada gerbang masuk informasi ke negeri ini. Kalian juga pasti sudah tau bukan siapa 3 raksasa itu?. Harry Tanoesoedibjo yang memiliki RCTI, Global TV, dan MNC TV bergabung dengan Partai Hanura setelah sebelumnya satu perahu dengan Partai NasDem. Surya Paloh pemilik Metro TV adalah Ketua Umum Partai NasDem. Aburizal Bakrie pemilik TV One dan ANTV adalah Ketua Umum Partai Golkar.

 

Yah, memang bukan hal yang baru. Semua orang, bahkan tukang becak di sebrang Pasar Baru pun sudah tau tentang hal ini. Tapi ada 1 hal yang menarik! 3 Raksasa media itu sama-sama ikut memeriahkan pesta 4 tahunan terbesar kemarin. Hal itu sontak lah menjadi perhatian Nasional. Dampak terbesar dari keikutsertaan 3 raksasa itu sebenarnya dirasakan oleh rakyat, terutama kalangan rakyat yang hobinya bersemedi di depan Televisi. Mungkin kamu termasuk orang yang dilanda kebingungan ketika menonton hasil hitung cepat pada Pemilu Presiden yang lalu. Ada stasiun TV yang memenangkan No.1, tapi ada sebagian stasiun TV lain yang memenangkan no. 2. Media pada akhirnya malah menjadi kepanjangan tangan kepentingan politik tertentu dan mengabaikan perannya untuk melayani kepentingan publik.

Dan ironis nya, di saat-saat genting seperti itu. Lembaga resmi pemerintah seperti KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang sebenarnya bisa menunjukan taring nya malah tidak bisa berbuat banyak. Tak peduli akan jeritan rakyat nya yang kebingungan dan bom sms pengaduan yang kabarnya mencapai jutaan itu nyatanya tidak cukup kuat membuat KPI digdaya. Alih-alih memberi sanksi pada stasiun TV terkait, pertempuran antar media itu malah semakin sengit! Puncaknya, salah satu kantor cabang stasiun TV swasta di Jogjakarta menjadi sasaran amuk massa yang “katanya” sebal akan pemberitaan media tersebut yang dianggap ngawur dan tidak relevan.

Terlepas dari semua konflik dan intrik yang terjadi, Pemilu raya tahun kemarin memberikan kita banyak pengalaman. Sebagai bangsa demokratis yang terbilang masih berusia muda, memang masih wajar jika negeri ini masih banyak menuai kesalahan. Bukankah semua hal di dunia ini butuh proses, bukan protes ?

 

Terakhir, saya ingin menunjukan sebuah video parodi yang menunjukan realita media informasi di negeri ini. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat dan pelajaran untuk kemajuan kita semua.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s