[Review Novel] THE ARK

Serpong, 13 Agustus 2016

Selamat malam !

Malam ini saya mau coba review salah satu novel klasik bertema konspirasi yang saya beli sekitar 1 tahun yang lalu.

Konspirasi ?

Ya! sebenernya sudah cukup lama tidak membaca cerita / novel bertema konspirasi, dulu saya sempat menyukai (tergila-gila) dengan beberapa buku dengan tema ini. Di rumah juga ada sekitar 5 novel bertema konspirasi, kalau mau pinjam silakan cek di Rak Buku saya ya.

Jadi begini, beberapa hari lalu saya bertemu salah satu adik tingkat di kampus saat sedang mempersiapkan penyambutan Mahasiswa Baru 2016. Entah bagaimana awalnya saat itu kita tiba-tiba jadi ngobrolin soal buku, dan ternyata saya baru tau kalau dia suka buku bergenre Konspirasi, disana saya sempat tercengang. Ga nyangka aja karna jarang ada perempuan suka cerita bertema soal konspirasi. Dan dia juga cukup tau banyak soal novel-novel bergenre sejenis, salah satunya dia bilang pengen banget baca Jacatra Secret nya bang Ridyasmara.

Oke, sekarang kita masuk ke review nya ya. Sekarang saya mau coba review tentang salah satu novel Konspirasi karya Boyd Morrison yang paling hits. Untuk informasi mendetail tentang novel ini bisa dilihat di official website-nya disini.

 

The ARK

Konspirasi merekonstruksi Bahtera NUH untuk menghancukan peradaban Dunia.

the ARK

The greatest archaeological discovery in history could mean the end of mankind”.

 

 

Apa skenario terburuk akhir peradaban manusia yang ada dalam fantasimu ?

Awal perjalanan ini bercerita tentang seorang ahli Arkeologi cantik bernama Dilara Kenner yang dikontak oleh salah seorang teman lama ayahnya Sam Watson. Pada pertemuan awal mereka, Sam memberikan informasi mengenai misteri hilangnya Ayah Dilara yang juga seorang Arkeolog. Namun setelah memberikan informasi tersebut Sam Watson tiba-tiba dibunuh di tempat oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya.

Sebelum nafas terakhirnya, Sam meminta Dilara untuk menemui salah satu koleganya bernama Tyler Lock, dia adalah seorang insinyur muda brilian dalam bidang Teknik yang juga mantan Prajurit satuan khusus. Awal pertemuan Dilara dan Tyler Lock inilah yang menjadi awal dari segalanya. Informasi terakhir yang Dilara dengar tentang Ayahnya ialah bahwa ayahnya tersebut sedang dalam penelitian Arkeologi dalam pencarian Bahtera NUH. Sejak saat itu Dilara Kenner tidak pernah lagi bertemu Ayahnya, beberapa mengatakan bahwa Ayahnya menjadi gila karna menyatakan kalau dia sudah berhasil menemukan Bahtera yang hilang tersebut. Dilara sendiri merasa prihatin pada Ayahnya, namun kabar yang menguap tersebut dibenarkan oleh Sam Watson. Sam mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Ayah Dilara tersebut menuntun pada penemuan arkeologi terbesar sepanjang sejarah, namun itu juga dapat menjadi cerita akhir bagi kehidupan peradaban manusia.

Apa hubungan Bahtera NUH dengan kemusnahan manusia ?

Cerita Boyd Morrison ini dapat saya katakan salah satu cerita bertema konspirasi yang original. Alur dari setiap chapternya pun selalu menawarkan rasa penasaran, namun untuk beberapa chapter akhirnya saya kira tidak sebaik di awal dan pertengahan. Tapi masih tetap mengagumkan, tidak mengecewakan.

Bagi yang menyukai cerita serial, berdasarkan informasi di website officialnya saya juga baru tahu kalau novel ini memiliki lanjutannya. Entah itu sekuel atau berantai, tapi diwebsite nya dikatakan “Tyler Lock Book1“. Mungkin akan dibuat seperti Robert Langdon nya Dan Brown ya ? Tapi overall untuk para pecinta konspirasi saya sangat menyarankan membaca novel ini, karna ceritanya salah satu yang original bagi cerita-cerita bertema konspirasi. Bagi yang mau pinjam novelnya atau mungkin buku-buku koleksi saya yang lain, bisa cek Rak Buku saya.

Selamat malam !

 

 

Gagal Surprise !

Tangerang, 02 Agustus 2016

20:29

 

Tak terasa sudah genap 15 hari 20 jam 28 menit jadi orang Serpong. Sudah masuk minggu ke 3 saya dan teman-teman melaksanakan ibadah KP di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) divisi EMC (Electromagnetic Compatibility). Alhamdulillah bisa betah ada divisi ini, divisi yang kata orang sini disebutnya divisi ghaib. Mungkin gara-gara penelitian disini berpusat pada medan elektromagnetik sehingga yang dipelajari juga ilmu-ilmu ghaib.

 

Pagi tadi sebelum berangkat seperti biasa kami sarapan dulu di rumah Bunda. Itu nama panggilan kita ke ibu kos disini, walaupun tinggal di Tangerang tapi si Bunda ini ternyata orang Bandung. Jadi yaa asa di Bandung pokonamah sok cai-cai heula jang !

 

Ditengah keriuhan sarapan pagi tiba-tiba para ibu-ibu Devie dan Yugy ngasih tau kalau hari ini Ulang Tahun nya kang Willy. Beliau adalah alumni Telkom POLBAN angkatan 2006 (kalau ga salah) yang juga jadi wasilah bagi kami bisa menunaikan ibadah KP disini. Walaupun berada di divisi yang berbeda tapi kang Willy sudah berasa jadi pebimbing KP kita, orangnya baik pisan asli! masih single lagi !

 

Setelah berunding akhirnya kita sepakat bikin hadiah kecil-kecilan buat beliau. Sebelum berangkat ke kantor kita sempatkan pesan kue Ulang tahun dulu ke temen nya teh Nia. Teh Nia ini anak perempuan nya Bunda, orang nya kocak asli! kalau ngobrol sama dia ada aja bahasannya. Kata teh Nia kue nya bisa diambil pas istirahat siang nanti.

 

Istirahat siang tiba, tapi kerjaan masih banyak dan teh Nia udah tak terhitung nge-Miscall  kita. Akhirnya saya sama Rangga izin (lebih tepatnya kabur) dulu buat ngambil kue. Kue udah ditangan, lilin berbentuk angka 27 siap di tiup. Tapi yang Ulang taun nya mana ? Ternyata kita baru tau siang itu kalau kang Willy sedang tidak ada dikantor, beliau lagi ada dinas di Semarang. Yang lebih parah si akang nya juga lupa kalau hari ini dia ulang tahun -___-

 

Akhirnya kita cuma bisa kasih selamat dan kirim do’a (tentunya) dari jauh. Selamat ulang tahun kang, cepat Nikah !

IMG_20160802_163300.jpg

BPPT squad: (dari kiri ke kanan) Rangga, Raksa, Devi, Afnan, Yugy, Jaka

 

Tapi ya begitulah laki-laki, beberapa orang dari mereka (termasuk saya) tidak terlalu memikirkan tentang diri sendiri, bahkan hari ulang tahun pun sering kali harus diingatkan orang lain Haha.

Tapi beda halnya dengan perempuan, mereka lebih peka terhadap hal-hal kecil dalam diri mereka bahkan pada diri pasangan tau teman nya. (Why Men Don’t listen and Woman Can’t Read Maps: Alan Pease & Barbara Pease – 1999)

Mungkin itulah kenapa Tuhan menciptakan keduanya ya ?

karna laki-laki cenderung tak acuh dan perempuan sangat peka ! Hehe

Tapi terlepas dari apapun, setiap orang memiliki alasan untuk setiap tindakan nya, setiap orang memiliki masa lalu yang mempengaruhi cara pandangnya. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk berhenti mempercayai mereka. Tidak perlu tau masa lalunya, tapi jadilah bagian dari masa depan nya !

Seperti aku yang masih belajar memahamimu 🙂

 

 

 

Ditulis pukul 20:29 dan baru selesai pukul 21:21.

Sambil menikmati potongan Brownies terakhir …

Terimakasih untuk kue nya! Selamat malam 🙂

Is it Worth ?

Malam ini tampak tenang, aku tidak tau apakah diluar bintang terlihat atau bulan tampak. Seharian ini aku hanya mengurung diri di dalam kamar kecil ini. Malam ini, sesekali terdengar deru kendaraan lalu lalang di jalan raya. Dalam keheningan yang semakin dalam, tetiba aku teringat pertanyaanmu di hari kemarin. Saat kita sedang meneduh dibawah jembatan layang Pasopati. Duduk bersebelahan di bangku terdepan taman Pasupati, sambil memandang kerumunan orang-orang yang juga ikut meneduh kau bertanya padaku. Aku masih sangat hapal pertanyaan itu. Kau bilang… “Apa kau pernah merasa berada di titik terendah dalam kehidupanmu ?”.

 

Aku tersentak saat kau menanyakan hal itu, sungguh tak menyangka bibir tipis itu akan sanggup menikam dengan sebuah pertanyaan semacam itu. Namun kau tidak menyadarinya, aku tidak sanggup menunjukan ekspresi kekagetanku padamu. Aku juga tak tau apa yang membuat kau bertanya hal seperti itu. Mungkin kau bisa melihat dari mataku? Ya, aku akui memang akhir-akhir ini aku merasa kosong. Aku sedang merasa hampa, merasa telah melakukan banyak hal, telah bekerja keras namun hasil yang datang tidak ada. Hanya kosong. Setiap kali aku memikirkan apa yang telah kukorbankan untuk tetap menjaga amanah ini maka semakin sakit hati ini. Semacam ditikam oleh tombak dari segala penjuru. Semakin aku memikirkan bahwa selama ini aku hanya bertarung sendiri, bahwa aku berjuang demi mereka sendiri, sedang orang-orang yang dahulu mendukungku, orang-orang yang dahulu bersumpah untuk ikut berjuang bersamaku kini mulai mundur teratur. Satu persatu, beraturan hingga menyisakan aku sendiri di tengah medan pertempuran ini.

 

Malam ini adalah puncaknya. Entahlah, rasanya saat ini aku sudah tak mengenali diriku sendiri. Aku lelah untuk mempercayai manusia. Aku lelah untuk berharap pada mereka. Aku lelah untuk berjuang demi mereka. Yang tersisa hanya satu pertanyaan, satu pertanyaan yang membuatku tetap bernafas, tetap berjuang dengan sisa tenaga yang ada dengan sisa semangat yang ada dengan sisa harapan yang ada. Hanya satu pertanyaan….. IS IT WORTH ?

 

Kamis, 14 July 2016

KADERISASI MAHASISWA : URGENSI DAN RELEVANSI

Masa perkuliahan adalah masa yang penuh dinamika, intrik, dan pembelajaran. Label “Maha” yang melengkapi kata “siswa” memang memiliki sejarah panjang dibelakangnya. Bila menengok kebelakang akan dengan mudah kita jumpai serentetan peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan Mahasiswa dan pergolakan Negeri ini. Dinamika kampus memang memilki pesonanya tersendiri, terutama bagi para mahasiswa baru yang bisa dikatakan masih “buta” pada sejarah panjang pergerakan mahasiswa. Oleh karna itu, demi keberlanjutan tongkat estafet pergerakan mahasiswa, diperlukan adanya suatu sistem pengkaderan yang terstruktur dan terintegrasi yang dapat menjaga keberadaan eksistensi mahasiswa di Negeri ini. Karna memang merekalah yang kelak akan menjadi nakhoda yang menghantarkan Negeri ini berlabuh di pulau kejayaan.

Kaderisasi adalah proses yang wajib dilaksanakan oleh setiap organisasi untuk menjaga eksistensinya, tak peduli apapun bentuk organisasi tersebut. Dalam konteks kemahasiswaan yang notabene dilabeli sebagai kaum akademisi, kaderisasi memiliki fungsinya tersendiri. Secara umum kaderisasi mahasiswa merupakan serangkaian proses panjang pembentukan karakter (character building) mahasiswa, agar mereka sadar akan peran dan tanggung jawabnya pada lingkungan sosial.

Kata “kaderisasi” mungkin menjadi sesuatu yang tampak menyeramkan, khususnya bagi para mahasiswa baru. Gambaran mengenai hal-hal berbau perpeloncoan, hukuman fisik, makian, ajang balas dendam senior pada junior setidaknya menjadi first impression bagi beberapa maba. Sesuatu yang menurut saya keliru selama ini. Kaderisasi seharusnya tidak menjadi hal yang ditakuti, melainkan hal yang dibutuhkan. Karna bagaimanapun kaderisasi adalah ujung tombak yang menentukan masa depan suatu organisasi. Hal-hal mengenai gambaran buruk kaderisasi tidak boleh sepenuhnya dilimpahkan pada mahasiswa baru, bisa saja karna memang sistem yang diberlakukan selama ini kurang cocok atau tidak relevan dengan kondisi zaman.

Berangkat dari hal itu penulis berfikir bahwa diperlukan adanya pengkajian ulang mengenai urgensi kaderisasi. Untuk apa kaderisasi itu ada? Bagaimana alur proses seharusnya? dan apakah ia masih relevan dengan tantangan zaman sekarang ?

Pemahaman mengenai kaderisasi dewasa ini seolah-olah terbiaskan, gambaran penyiksaan atau ajang balas dendam seolah menjadi hal yang tidak bisa terpisahkan dalam kegiatannya. Ini juga terjadi di kampus tempat penulis belajar. Sampai akhir-akhir ini turun SK pelarangan kaderisasi dari Direktorat. Entah hal apa yang memicu turunnya keputusan ini, mungkin karna banyak sekali laporan yang datang dari orangtua / wali mahasiswa yang ikut resah bila anaknya mengikuti acara kader. Namun, terlepas dari keresahan pihak direktorat atau orangtua akan acara ini, hal pertama yang harus disepakati adalah tercapainya persamaan visi atau persamaan presepsi dari seluruh elemen mahasiswa terhadap kaderisasi ini. Hal ini sangat penting adanya, karna yang terjadi sekarang ini di pihak mahasiswa pun belum satu suara. Tidak semua elemen mahasiswa setuju bahwa kaderisasi ini memang memberikan manfaat yang besar terhadap pencarian jati diri mahasiswa, namun ada juga beberapa mahasiswa yang masih berfikir bahwa proses kaderisasi tidak ada gunanya, menghabiskan waktu, ajang pembalasan, ajang pendekatan dengan maba atau yang lainnya. Bahkan jumlah mahasiswa yang berfikiran seperti ini semakin lama semakin banyak.

Inilah yang menjadi kelemahan dari pihak mahasiswa. Bagaimana bisa meyakinkan direktorat atau orangtua wali, jika dari kita sendiri (mahasiswa) belum satu suara? Masih sibuk dengan ego kita masing-masing. Padahal jika kita kaji lebih dalam, keberadaaan kaderisasi ini sangat penting adanya bagi kemahasiswaan. Kaderisasi mahasiswa berbeda dengan kaderisasi lain, kaderisasi mahasiswa harusnya memadukan pendekatan AKABRI dan cendikiawan. Konsep dengan disiplin tinggi hingga terbangun keterkaitan emosional serta kesetiakawanan, jiwa espirit de corp atau korsa ditanamkan. Proses brain washing dipadukan dengan ketegasan, management by conflict juga diajarkan, dilengkapi dengan berdiskusi, yang mengajarkan bernegosiasi, seni persuasi untuk meyakinkan orang lain lalu menggeliat dan berkelit saat berdiplomasi. Selain jiwa korsa, dibekali juga bagaimana berfikir kritis, berfikir besar, dan dilatih berbeda pendapat untuk memunculkan rasa toleransi. Selama kaderisasi diisi dengan kegiatan yang mempunyai esensi seperti diatas, dan seluruh elemen mahasiswa yang terlibat juga memiliki presepsi dan tujuan yang sama, maka tidak ada alasan untuk menghentikan kaderisasi. Efeknya, jika kerangka berfikir seperti ini dapat terwujud, maka dapat diambil sebuah simpulan bahwa kaderisasi wajib dilakukan. Tak peduli segenting apapun situasi atau sebesar apapun ancaman yang ada. Itulah urgensi kaderisasi.

Jika kita telah bersepakat mengenai urgensinya, akan timbul pertanyaan lain. Bagaimana dengan relevansinya ? apakah model kegiatan kaderisasi yang diterapkan saat ini sesuai atau relevan dengan zaman ? apakah perlu ada perbaikan atau mungkin perombakan besar-besaran?

Seperti yang kita tahu, perubahan zaman sangat mempengaruhi perubahan sosial. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Begitu juga dengan kaderisasi mahasiswa, akan sangat bertentangan jika kita menerapkan model kegiatan kaderisasi mahasiswa angkaiatan 90-an di masa sekarang. Kenapa? Karna memang situasinya berbeda, kebutuhannya berbeda, tuntutannya juga akan berbeda. Mahasiswa pada saat itu di didik untuk berani, kuat, bahkan siap mati. Karna tantangan zamannya menuntut demikian. Seperti yang kita ketahui bagaimana besarnya perjuangan kakak-kakak pendahulu kita yang rela berpanas-panas turun ke jalan, meninggalkan bangku kuliah, meninggalkan keluarga tersayang untuk membela rakyat. Menyatukan suara dengan ribuan mahasiswa lain seluruh Indonesia untuk menurunkan rezim otoriter yang membuat rakyat menderita dan berkuasa pada saat itu. Sehingga tidak heran jika kaderisasi pada saat itu bisa dibilang keras, sangat keras bahkan. Karna tuntutan output mahasiswa yang dibutuhkan memang demikian. Harus berani melawan pemerintah, berdesakan mendorong aparat keamanan yang berjaga saat mereka melakukan aksi.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah kaderisasi semacam itu masih relevan jika dilakukan pada masa sekarang ini ?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita harus mengkaji bagaimana kondisi zaman sekarang ini. Pada saat ini kondisi perpolitikan di Indonesia memang tidak seekstrim dulu. Semenjak peristiwa 98, jarang sekali ditemukan aksi-aksi besar yang serupa. Namun, mahasiswa tetaplah mahasiswa, tak peduli semodern apapun zamannya, seorang mahasiswa tidak boleh kehilangan idealisme seorang pemuda yang selalu bersemangat dalam menyongsong perubahan.

Masa sekarang adalah masa pasca reformasi. Yang menjadi concern atau fokus zaman ini adalah bagaimana Indonesia mampu memiliki daya saing, tidak tertinggal oleh bangsa lain. Sehingga pemuda-pemuda yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pemuda-pemuda yang memiliki karakter seorang pemimpin, pemuda-pemuda yang memiliki kapasitas untuk memimpin negeri ini menuju kejayaannya. Bagaiman caranya membuat suatu sistem yang nantinya akan menghasilkan kader-kader yang tidak hanya memiliki solidaritas atau jiwa korsa, tapi juga berdayaguna? Bagaimana menciptakan suatu sistem yang akan menghasilkan output kader-kader yang tidak hanya berfikir kritis, tapi juga berfikir besar?. Hal-hal seperti inilah yang dapat menjadi tolak ukur dalam merancang kaderisasi di zaman ini.

Bicara tentang keberdayagunaan, 1400 tahun yang lalu, seorang pria yang menduduki peringkat teratas dalam daftar “100 Most Influence People” karya Michael Heart pernah berkata. Bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan bantuan manusia lain. Salah satu hal yang membedakan satu individu dengan individu lain adalah faktor kebermanfaatannya (pemberdayaan). Itulah kewajiban dalam hubungan antar manusia. Hal ini juga yang harusnya menjadi tujuan setiap organisasi, terutama organisasi kemahasiswaan seperti HIMATEL. Memang kaderisasi adalah mesin utama dari sebuah organisasi, namun jangan lupakan faktor fundamental lain yang menjadi pondasi tujuan untuk apa HIMATEL dibentuk? Yaitu adalah faktor pemberdayaan. Pembinaan kaderisasi dapat diibaratkan membuat sebuah mobil balap F1. Dimulai dari tahap design, perancangan, pembuatan suku cadang, pembuatan body mobil sampai akhirnya menjadi sebuah mobil balap yang utuh dan memiliki spek yang diharapkan, seperti itulah kaderisasi. Namun setelah mobil itu jadi, masalahnya sekarang adalah dimana kita akan menempatkannya? Bagaimana kita menggunakannya? Kita bisa saja mengendarai mobil ini dijalanan biasa atau dijalan desa yang berlubang, toh mobil ini tetap akan melaju. Kita juga bisa mengendarainya di jalan bebas hambatan seperti jalan tol. Tapi dimana sebaiknya kita mengendarain mobil ini? Tentunya mobil balap F1 yang memiliki akselarasi tinggi seperti ini akan lebih maksimal jika kita kendarai di lintasan balap. Performa nya akan lebih terasa ketimbang saat kita mengendarainya dijalanan kota biasa yang penuh dengan rambu-rambu lalu lintas. Inilah Pemberdayaan !

Setelah berhasil menciptakan kader-kader yang memiliki kualitas, hal selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana memberdayakannya? Proses pemberdayaan inilah yang tampak luput dari perhatian. Padahal ini adalah inti dari keberadaan suatu organisasi. Organisasi bukan hanya tempat pembentukan karakter, tapi lebih dari itu, juga menjadi wadah yang dapat menyalurka potensi anggotanya, memberdayakan anggotanya, memberi daya guna bagi lingkungan disekitarnya. Dalam konteks kemahasiswaan, tentunya sebuah organisasi mahasiswa harus dapat memenuhi tuntutan zaman. Jadi, sebenarnya kaderisasi bukan inti dari sebuah organisasi yang bila telah selelsai melaluinya maka berakhirlah kewajiban organisasi tersebut, tapi sebaliknya ia adalah tahap awal yang setelah berhasil melaluinya maka tahap utamanya adalah pemberdayaan. Oleh karna itu, organisasi kemahasiswaan yang dalam konteks ini adalah himpunan mahasiswa diharapkan mampu menjadi jawaban bagi tantangan zaman demi terwujudnya masa depan negeri yang lebih baik.

W A R N A

Selamat malam massa blogger ! udah lama ga update blog ini. Bingung soalnya mau nulis tentang apa, padahal kalau ide banyak. Tapi ya itu, ga pernah ketemu benang merahnya. Mungkin karna akhir-akhir ini kurang asupan bacaan. Gara-gara si UTS inimah kayanya jadi abis waktunya buat belajar -__-

Tapi syukur Alhamdulillah UTS ini tidak seburuk yang dibayangkan, yaa walaupun ada satu dua mata kuliah yang harus perbaikan tapi kalau perbaikannya sekelas ga masalah kan ? Hehe. Seperti yang pernah saya bilang ke beberapa teman di kelas, IP itu kepanjangan dari Indeks Pencitraan. Jadi jangan terlalu khawatir kalau nilai ujian kurang memuasakan, selama indeks pencitraan ke dosennya sudah maksimal minimal nilai B sudah ditangan laah.. wkwk

Tapi jangan ditiru sembarangan juga sih cara macam ini, soalnya besar pencitraan yang dilakukan juga harus sebanding dengan kepahaman yang dimiliki. Jadi si hasil pencitraan itu juga harus bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai matkul yang ngga kita kuasai malah dapet nilai tinggi gara-gara si pencitraan tadi. Bukan apa-apa sih, kurang etis aja keliatannya.

Sebenarnya malam ini saya sedang sibuk berkutat dengan proyek digital yang mulai memebrikan titik terang setelah seharian dari pagi tadi mengerjakannya. Tapi entah kenapa tiba-tiba jadi kepikiran buat nulis tentang kesan pertama menjadi mahasiswa. Late post sih memang, di penghujung smt 2 baru mau nulis soal kesan pertama. Tapi untungnya saya bukan anak jaman kekinian, jadi kata “Late post” itu tidak ada dalam kamus kehidupan saya. Hehe

Lalu kenapa diberi judul WARNA ? Entahlah, tiba-tiba yang kepikirannya itu. Mungkin ini gara-gara pudding yang berada diatas meja saya saat ini. Puddingnya warna coklat kehitam-hitaman, fla vanilla nya warna putih. Gara-gara itu jadi tiba-tiba ingin kasih judul “WARNA”. Ga nyambung? Ga apa-apa, wong tulisan saya ini, blog saya ini. J

Oh iya, saya juga berterimakasih dengan sangat untuk seseorang yang ngirim pudding ini. Puddingnya enak dan banyak. J J J

W A R N A

Adalah komponen dasar yang membangun kehidupan, mempercantiknya, menjadikan ia indah, lebih hidup!

Kesan pertama saya saat pertamakali berkenalan dengan dunia kampus adalah ….. Banyak WARNA !

Seolah-olah saya memasuki sebuah mesin waktu yang membawa saya menuju zaman feodal di Jepang. Dimana saat itu semua orang bertarung membawa kebanggan WARNA mereka masing-masing. Nama-nama jendral perang besar seperti Oda Nobunaga dari Owari, Sanada Yukimura dari Kai, Date Masamune dari Oshu, Nagamasa dari Oumi mereka semua bertarung membawa warna mereka masing-masing. Atau, sedikit ke arah barat dari Jepang kita akan jumpai sebuah daratan yang terkenal dengan romansa Three Kingdom nya. Adalah kerajaan Wu, Wei, dan Shu yang juga saling beradu kekuatan untuk dapat menjadi yang terbaik dan menguasai seluruh daratan. Nama-nama jendral besar seperti Chao-chao, Liu bei, Zhao yun, dan Guan yu juga terlahir di daratan itu. Mungkin bagi teman-teman yang menyukai sejarah peradaban dunia akan mengerti maksud tulisan saya, atau setidaknya yang pernah menonton serial Anime “Sengoku Basara” atau Box Office “Red Cliff” akan lebih cepat “ngeuh” tentang tulisan ini. Kalau kata Sukarno, Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Toh Negara yang besar adalah yang memiliki catatan sejarah yang panjang kan ?

Kira-kira seperti itulah kesan pertama saya di kampus ini. Kehidupan di perguruan tinggi memang kaya akan warna. Ada merah, kuning, hijau, abu, biru, jingga dan lainnya. Setiap warna memiliki cerita sendiri, setiap warna juga memiliki arogansi mereka sendiri, setiap wana mengajarkan tentang arti dari sebuah perjuangan, pengabdian, perjalanan panjang.

Saya tergabung dibawah panji berwana biru muda. Saya merasa sangat beruntung berada disini. Biru adalah warna favorit saya. Ditambah padanan putih sehingga menjadikan biru yg terkesan tegas menjadi lebih lembut, seolah-olah ia berpendar memunculkan ketenangan.

Namun terlepas dari filosofi dadakan itu, kami adalah sebuah keluarga yang berada diabawah satu atap. Ya, keluarga ! Tempat kita bisa bertemu dengan orang-orang tersayang, tempat berlindung dari sengatan panasnya matahari, menusuknya angin malam, atau gemuruhnya badai.

Selamat datang di rumah kami! Rumah yang melahirkan generasi-generasi bermental pejuang yang kelak akan menuntun negeri ini menuju kejayaannya!

15 Mei 2015.

Ditulis malam hari sambil menikmati pudding yang dikasih tadi siang.

Balada Seekor Ikan Kecil

Balada Seekor Ikan Kecil [Sebuah Analogi]

Oleh: Afnan Fuadi

Setahun lalu aku pindah rumah

Rumah yg sekarang memang tidak lebih besar,

Namun lebih sejuk, lebih menenangkan.

Didaerah sekitar rumahku terdapat sebuah Sungai.

Kecil memang, tidak terlalu indah, airnya juga keruh.

Banyak anak-anak didaerah ini sering bermain disana

Ibu bilang “Nak, mainlah ke sungai, biar kamu punya teman di tempat baru ini”.

Akhirnya aku pergi ke sungai, walau tak berniat mencari teman

Kala itu hari sudah sudah sore, sang Fajar terlihat bersiap Istirahat

Aku masih duduk dipinggir sungai, termenung …

Beberapakali kulihat 2, 3 ikan sungai hilir mudik bergantian..

Tak ada yg aneh memang.. Ya, hanya ikan !

Saat hendak pulang, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya seolah muncul dari dasar sungai.

Cahaya itu menyita perhatianku, kudongkakan badan mencari sumbernya

Cahaya itu berputar-putar diatas permukaan sungai, seolah-olah minta diperhatikan

Tak kusangka sumbernya dari seekor ikan. Kecil memang namun indah

Sejenak kutunda niatan untuk pulang, kupandang lamat-lamat ikan kecil itu

Bentuknya kecil, tak lebih besar dari ukuran kotak makan siangku

Namun sisiknya beda dari kebanyakan ikan disungai ini.

Dia menyala-nyala, seolah-olah memantulkan dengan sempurna cahaya sang Rembulan,

Siripnya yang lentik pun semakin menambah kecantikan alaminya

Tak terasa hari sudah malam dan aku harus segera pulang agar tak dimarahi ibu.

Meninggalkan ikan kecil itu sendirian, di sungai keruh pinggiran desa kami.

Esoknya sepulang sekolah aku bergegas pergi ke sungai,

Ibu sempat memarahi karna aku tidak sempat mengganti baju dan makan siang.

Akhirnya kubawa kotak makanan bersamaku ke sungai.

Hari masih siang, matahari masih meninggi. Ikan kecilku belum tampak

1 jam, 2 jam, 3 jam ku menunggu tetap tidak tampak. Aku mulai putus asa.

Makan siangku belum kuhabiskan semua, tapi entahlah perut ini tidak terasa lapar

Aku lebih lapar rasa rindu karna menunggu ikan kecilku.

Hari mulai malam, akupun mulai putus asa. Seharian menunggu tidak ada hasilnya!

Sepertinya ikan kecil tidak ingin menemuiku malam ini.

Aku sudah ingin pulang, tapi berat rasanya untuk melangkah,

Anak-anak desa yg lain sudah mulai pulang, tinggal aku sendiri. Tertunduk lesu…

Tiba-tiba dari atas permukaan sungai muncullah siluet putih, aku belum menyadarinya

Hingga akhirnya sebuah kilatan cahaya meloncat keluar dari dalam sungai.

Aku mulai tersadar… Itu ikan kecilku !!!

Seperti biasa dia menari-nari diatas sungai, sisik-sisiknya memantulkan cahaya rembulan.

Malam itu dia tidak sendiri, ada beberapa ikan juga bersamanya.

Namun diantara ikan-ikan yg lebih besar, dia tetap paling menawan.

Baru kutemui rasanya ikan seperti ini.

Ikan kecil ini memang menyita perhatianku !!!

Aku teringat, tadi sepulang sekolah aku sempat mampir ke toko ikan

Aku rela menghemat jatah uang jajan hari ini untuk membeli pakan ikan

Kutaburkan segenggam pakan ke permukaan sungai.

Aku ingin melihat ikan kecilku menyantapnya dengan senang.

Tapi, kenyataannya tidak seperti itu… Ikan kecilku tidak kebagian makanan

Dia kalah cepat dan tenaga oleh ikan-ikan yang lebih besar.

Kasian ikan kecilku, sepertinya kehidupamu di sungai ini sangatlah berat.

Hari-hari selanjutnya selalu kuhabiskan melakukan hal yang sama

Pulang sekolah, makan, menunggu sore dan pergi ke sungai.

Aku sudah hafal jadwal pertunjukan ikan kecilku ini.

Sampai akhirnya pada hari ke sekian, aku bilang pada Ibu..

“Ibu, bolehkah aku memelihara ikan ?”

Awalnya ibu mulai ragu, dia bilang “Apa kamu yakin bisa mengurusnya?”

Sejenak aku termangu, aku memang tidak tau cara mengurus ikan

Aku bahkan belum pernah punya peliharaan sebelumnya.

“Aku tidak yakin bu, tapi aku tidak tega melihat keadaan ikan itu disungai,

dia selalu tersudutkan oleh ikan-ikan yg lebih besar..”

Ibu bertanya lagi, “Mau kau simpan dimana ikan itu? kita kan tidak punya aqarium?”

Reflek aku menjawab, “Kita bisa pakai tempat kue ibu, itu kan dari kaca,

lagian ibu hanya menggunakannya pas menjelang hari Raya saja kan?”

Ibu terus menyanggah, tapi aku selalu punya alasan untuk menawab.

Hingga akhirnya Ibu pun mulai mengalah, mungkin karna melihat sorot mataku yg bersungguh-sungguh.

Akupun berteriak senang, lalu memeluk ibu erat.

Sejak kecil aku memang jarang meminta hadiah pada Ibu, kalaupun minta mungkin bisa dihitung jari.

Malam ini adalah malam terbaik dalam hidupku, aku senang, aku cinta Ibu.

Aku cinta Ikan Kecilku….

Keesokan paginya ….

Hari ini hari Libur, namun aku bangun lebih pagi dari biasanya. Teringat ikan kecilku,

Habis mandi dan sarpan aku bergegas pergi ke sungai, sambil membawa kaleng kaca milik ibu

Aku tau ini masih pagi, tapi aku sudah tidak sabar! aku ingin segera bertemu ikan kecilku!

Tampaknya hari ini adalah hari keberuntunganku!

Baru saja sampai sungai, aku sudah bertemu dengan ikan kecilku,

Awalya aku mulai ragu, setauku dia hanya muncul saat hari menjelang malam

Tapi tiba-tiba ikan itu menari-nari disungai, namun kali ini dia berhias cahaya sang Fajar

Sudah kuduga, Itu Ikan kecilku !!!

Segera kudongkakan kaleng kaca yg kubawa dari rumah tadi,

Tidak terlalu sulit, ikan kecil itu langsung masuk kedalam kaleng.

Tampaknya dia memang sudah mengerti. Ahh.. senangnyaaa

Kutenteng kaleng kaca ibu menuju rumah.

Anak-anak lain yg sedang bermain disungai mulai memperhatikan

Beberapa dari mereka bahkan sempat merengek menarik baju Ibunya karna iri padaku.

Ibu, hari ini aku senaang sekali..

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat menyenangkan,

Sebelum berangkat sekolah kuberikan beberapa pakan untuk Ikan kecil,

Disekolah aku tidak fokus belajar, selalu teringat ikan kecilku. Aku ingin pulaang!

Suara bel sekolah mulai nyaring berbunyi, aku bergegas pulang ke rumah.

Pertamakalinya dalam hidupku suara bel pulang sekolah terdengar sangaat indah

Bahkan lebih indah dibanding suara gerobak abang penjual eskrim di desa.

Sesampai dirumah aku bergegas pergi ke meja belajar di kamar,

Kutengok ikan kecilku, seperti biasa dia selalu menawan.

Rasa-rasanya untuk saat ini aku tidak membutuhkan teman yg lain.

Aku punya ikan kecilku, itu cukup !!!

3 kali sehari kuberi dia pakan, 3 hari seminggu kuganti air dikalengnya.

Tidak jarang juga kulepaskan dia di bak, menemaniku mandi.

Saat itu aku merasa menjadi anak yg paling bahagia,

Saat itu aku merasa menjadi orang yg paling mengerti kondisi ikan kecil,

Saat itu aku merasa paling tau apa yang dia butuhkan.

Saat itu aku merasa menjadi penolong ikan kecil dari sungai keruh itu.

Saat itu aku merasa, tanpaku pasti ikan kecil akan kesusahan mencari makan.

Hingga akhirnya pada suatu hari sepulang sekolah aku dikejutkan oleh suatu hal,

Hal yg sebelumnya tidak pernah bahkan terbesitpun tidak !

Ikan kecil sedang sakit …

Gerakannya tidak selincah biasanya, satu dua siripnya ada yg berjatuhan

Sisik-sisiknya juga tidak memantulkan cahaya seperti biasanya,

Aku sedih, kuhampiri Ibu. Aku menangis dipelukan ibu.

Aku bingung tak tau harus berbuat apa …

Aku bingung apanya yang salah dengan perawatanku? …

Aku kasian melihat ikan kecil lemah tak berdaya …

Rasa-rasanya hari kemarin semuanya masih berjalan seperti biasa,

Rasa-rasanya hari kemarin gerakannya masih lincah seperti biasa,

Rasa-rasanya hari kemarin sisik nya masih bercahaya seperti biasa.

Ibu, tolong aku… Ikan kecil maafkan aku …

Aku masih menangis tersedu dipangkuan Ibu,

Ibu membelai lembut, sambil mencoba menegerkanku, berkata:

“Sudah nak, semuanya baik-baik saja. Jangan nangis lagi ya. Menangis tidak membunuh masalah..”

Aku tau, kata-kata ibu tidak merubah apapun. Ikan kecil masih tetap sakit

Tapi setidaknya ibu membuatku berhenti menangis, Ibu benar, menangis tidak membunuh masalah.

Aku mulai bertanya pada Ibu, apa yg harus kulakukan ?

Ibu bilang, “Kamu harus kembalikan lagi ikan kecil ke sungai.

Kamu benar, mungkin ikan kecil akan kembali kesulitan mendapat makanan,

mungkin ia kembali akan tersudutkan oleh ikan-ikan yg lebih besar,

tapi nak, disitulah letak perjuangan nya. Ikan kecil tidak bisa terus-terusan hidup didalam kaleng,

dia butuh tempat yg lebih luas, dia butuh cahaya rembulan yg akan mempercantik dirinya.

Ibu yakin, nanti dia akan kembali sembuh dengan sendirinya.”

Nasihat ibu seakan menampar habis pipiku,

ibu benar. Aku terlalu berlebihan pada Ikan kecil.

Aku terlalu sombong, merasa bisa mengurus ikan kecil seorang diri.

Keesokan harinya dengan ditemani ibu aku pergi kesungai

kami juga turut membawa ikan kecil,

sudah kuputuskan, hari ini aku akan kembalikan ikan kecil ke sungai.

Ditepi sungai, mulai kudongkakan kaleng kaca ke bibir permukaan sungai

Perlahan ikan kecil mulai berenang keluar, kembali ke dasar sungai…

Berat memang, tapi mungkin ini yg terbaik, buatku, dan juga ikan kecil.

Selang beberapa detik ikan kecil sudah tak terlihat lagi,

mungkin dia sudah rindu dasar sungai.

Sambil menatap riak-riak air di permukaan sungai, aku bergumam dalam hati,

“Selamat tinggal ikan kecil, kau akan selalu menjadi ikan yg paling istimewa untukku.”

Sambil menatap riak-riak air di permukaan sungai Ibu kembali berkata,

“Nak, terkadang saat mencintai sesuatu kita merasa paling benar

Kita merasa paling mengerti akan kebutuhan yg kita cintai itu.

Tak jarang juga kita bersikap terlalu berlebihan, mengatur semua hal sampai detil terkecil

Tapi anakku sayang, alam semesta ini sudah memiliki penjaganya sendiri.

Setiap hal, sekecil apapun itu sudah diatur dengan skenario terbaik oleh sang Pencipta

Begitu juga dengan ikan kecil,

Anakku sayang, janganlah kau khawatir lagi dengan ikan kecil,

Dia akan baik-baik saja, pasti akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.

Selamat tinggal ikan kecil

aku akan merindukanmu . . .

Frekuensi kami, tapi bukan untuk kami

Siang tadi saya mendapat sebuah notofication dari twitter, awalnya saya kira paling hanya akun BOT yang numpang jualan lagi. Maklum lah, 2 minggu terakhir ini semua mention yg masuk ga jelas semua. Dari yang nawarin jaket, kosmetik, kursus berbagai les, sampai yang paling parah jualan obat penurun berat badan. Aduuh mbak, badan saya udah kecil gini masih ditawarin juga ?  -_-

 

Setelah dilihat, ternyata mention yang masuk berasal dari teman kelas saya di kampus. Kafin nama nya, pemuda asal soreang bertubuh tinggi-kurus ini sudah menjadi salah satu teman dekat saya selama menjalani masa perkuliahan di kampus yang saya lupa nama kampus nya apa. Sepanjang perkenalan dengannya 6 bulan terakhir ini, menurut saya dia adalah seorang pemuda yang langka! bukan karna tubuhnya yang tinggi-kurus itu. Pemikiran dan ide-ide yang keluar dari mulutnya terkadang diluar nalar. Beberapa pekan yang lalu, saat acara menginap di rumah sambil mengerjakan soal perbaikan Matematika Terapan, pernah dia berkata secara tiba-tiba pada saya.

“Nan,  kadang urang mikir bahwa urang teh satu-satunya manusia nu aya di bumi. Sedangkan orang-orang lain teh malaikat, jadi sebenerna urang teh satu-satunya manusia nu keur di uji di Bumi. Nan, maneh malaikat lain ?”

 

Gimana, sarap kan dia? Dan lebih sarap lagi yang ngeladenin obrolan nya. Itu saya! Ha ha

Kembali ke masalah mention, tadi siang Kafin ngeMention saya begini :

Kafin

Dari link yang dia sertakan pada mention tersebut mengarah pada sebuah artikel yang berjudul : Konglomerasi Media dan Informasi yang Keruh .

Setelah saya baca, main case artikel tersebut memang sudah jadi kasus lama. Maklum lah, artikel itu di posting pada 24 Oktober 2014 lalu. Dimana pertempuran politik 4 tahunan sekali itu sudah mencapai puncaknya. Kalau saya tidak salah itu bertepatan dengan pelantikan Presiden baru negeri ini kan. Saya lupa tanggalnya, tapi yang jelas itu bulan Oktober.

 

Intisar dari artikel itu adalah tentang asal muasal segala Informasi yang masuk ke Negeri ini. Dari ratusan media informasi yang terdapat di Indonesia, baik itu koran, majalah, televisi, dll. Ada 3 raksasa besar yang sangat berpengaruh pada gerbang masuk informasi ke negeri ini. Kalian juga pasti sudah tau bukan siapa 3 raksasa itu?. Harry Tanoesoedibjo yang memiliki RCTI, Global TV, dan MNC TV bergabung dengan Partai Hanura setelah sebelumnya satu perahu dengan Partai NasDem. Surya Paloh pemilik Metro TV adalah Ketua Umum Partai NasDem. Aburizal Bakrie pemilik TV One dan ANTV adalah Ketua Umum Partai Golkar.

 

Yah, memang bukan hal yang baru. Semua orang, bahkan tukang becak di sebrang Pasar Baru pun sudah tau tentang hal ini. Tapi ada 1 hal yang menarik! 3 Raksasa media itu sama-sama ikut memeriahkan pesta 4 tahunan terbesar kemarin. Hal itu sontak lah menjadi perhatian Nasional. Dampak terbesar dari keikutsertaan 3 raksasa itu sebenarnya dirasakan oleh rakyat, terutama kalangan rakyat yang hobinya bersemedi di depan Televisi. Mungkin kamu termasuk orang yang dilanda kebingungan ketika menonton hasil hitung cepat pada Pemilu Presiden yang lalu. Ada stasiun TV yang memenangkan No.1, tapi ada sebagian stasiun TV lain yang memenangkan no. 2. Media pada akhirnya malah menjadi kepanjangan tangan kepentingan politik tertentu dan mengabaikan perannya untuk melayani kepentingan publik.

Dan ironis nya, di saat-saat genting seperti itu. Lembaga resmi pemerintah seperti KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang sebenarnya bisa menunjukan taring nya malah tidak bisa berbuat banyak. Tak peduli akan jeritan rakyat nya yang kebingungan dan bom sms pengaduan yang kabarnya mencapai jutaan itu nyatanya tidak cukup kuat membuat KPI digdaya. Alih-alih memberi sanksi pada stasiun TV terkait, pertempuran antar media itu malah semakin sengit! Puncaknya, salah satu kantor cabang stasiun TV swasta di Jogjakarta menjadi sasaran amuk massa yang “katanya” sebal akan pemberitaan media tersebut yang dianggap ngawur dan tidak relevan.

Terlepas dari semua konflik dan intrik yang terjadi, Pemilu raya tahun kemarin memberikan kita banyak pengalaman. Sebagai bangsa demokratis yang terbilang masih berusia muda, memang masih wajar jika negeri ini masih banyak menuai kesalahan. Bukankah semua hal di dunia ini butuh proses, bukan protes ?

 

Terakhir, saya ingin menunjukan sebuah video parodi yang menunjukan realita media informasi di negeri ini. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat dan pelajaran untuk kemajuan kita semua.